Casing Apikk ( Cegah Stunting Dengan Asi Eksklusif Melalui Pendampingan Nakes Dan Kader) Inovasi Dari Puskesmas Gedongan Untuk Peningkatan Asi Eksklusif.
Tahun 2018 data riskesdas menunjukkan bahwa 30,8% balita di
Indonesia mengalami stunting, sedangkan ambang batas prevalensi stunting WHO
menyatakan Indonesia termasuk kategori jumlah Sangat Tinggi (>30%). Tahun 2019 di propinsi Jawa Timur angka
prevalensi stunting sebesar 26,85%. Penelitian Ricardo dalam Bhutta tahun 2013
menyebutkan balita stunting berkontribusi terhadap 1,5 juta (15%) kematian anak
balita di dunia dan menyebabkan 55 juta anak kehilangan masa hidup sehat setiap
tahun. Oleh karena itu, perlu usaha bersama dalam menurunkan kasus stunting
melalui program yang disusun pemerintah serta kegiatan suplementasi gizi baik
dan seimbang.
Tahun
2019 di wilayah kerja Puskesmas Gedongan terdapat kejadian stunting sebanyak 69
anak. Capaian pemberian ASI Eksklusif
pada bayi baru lahir di wilayah Kerja Puskesmas Gedongan mencapai 72%.
Untuk menekan kejadian stunting, perlu difahami faktor penyebab stunting.
Menurut kementrian Kesehatan, stunting diakibatkan kekurangan gizi dalam waktu
lama yaitu sejak janin dalam kandungan sampai awal kehidupan anak (1000 Hari
Pertama Kelahiran). Penyebabnya karena rendahnya akses terhadap makanan
bergizi, rendahnya asupan vitamin dan mineral, dan buruknya keragaman pangan
dan sumber protein hewani. Faktor ibu dan pola asuh yang kurang baik terutama
pada perilaku dan praktik pemberian makan kepada anak juga menjadi penyebab
anak stunting apabila ibu tidak memberikan asupan gizi yang cukup dan baik.
Kegiatan
casing apikk dilaksanakan sejak calon pengantin akan menikah hingga hamil dan
melahirkan. Saat perempuan hamil, nakes melakukan pemantauan kondisi Kesehatan
ibu hamil dan melakukan kegiatan kelompok ibu hamil dalam rangka meningkatkan
pengetahuan ibu hamil tentang pencegahan stunting dan tentang asi eksklusif.
Program pada ibu hamil dilanjutkan dengan konseling / edukasi personal pada ibu
hamil trimester 3 yaitu pemberian konseling secara pribadi dan privat pada ibu
hamil trimester ketiga tentang pemberian
asi eksklusif, konseling diberikan oleh tim konselor secara integrasi yang
terdiri dari bidan, perawat, gizi dan dokter. Kemudian tenaga Kesehatan beserta
kader Kesehatan melakukan kunjungan rumah , komitmen ibu dan keluarga yaitu
kunjungan rumah pada ibu hamil pada trimester ketiga dan setelah bayi lahir
oleh petugas dan kader melakukan komitmen bersama keluarga ibu hamil dalam
pemberian asi eksklusif. Pemantauan terus dilakukan hingga bayi berusia enam
bulan. Pemantauan oleh kader Kesehatan dilakukan dengan menggunakan buku pantau
ASI yang dipegang dan diisi oleh kader Kesehatan setiap kunjungan rumah ibu
menyusui satu minggu sekali. Selanjutnya sebagai penutup dari program ini
adalah dengan pemberian sertifikat asi
yang disahkan oleh kelurahan setempat yaitu setelah bayi berusia 6 bulan dan
lulus dalam pemberian asi, maka akan diberi
sertifikat asi oleh kelurahan dan puskesmas sebagai bentuk penghargaan
ibu pejuang ASI.
Hingga
saat ini, kegiatan casing apikk tetap dilaksanakan di puskesmas gedongan
sehingga masyarakat dapat ikut berpartisipasi dalam kegiatan casing apikk dalam
rangka penurunan kejadian stunting sebagaimana yang telah berhasil di capai di
wilayah puskesmas gedongan.